Tekno

Paparkan Fakta Covid-19 Varian Omicron, Menkes: Jangan Termakan Hoax

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan sampai saat ini belum ada indikasi virus corona Covid-19 varian Omicron meningkatkan keparahan pada manusia yang tertular. “Khusus Omicron ini studinya masih berjalan. Jadi jangan termakan hoax,” katanya dalam konferensi pers pada Minggu malam, 28 November 2021.

Termasuk untuk deteksi kemampuan varian itu yang kemungkinan bisa menular dengan cepat, Menkes menginformasikan, risetnya juga masih berjalan. Pun dengan indikasi menurunkan kemampuan antibodi dari infeksi atau vaksinasi, masih diteliti para ahli.

Menurut Budi Gunadi, pengelompokan varian Omicron sebagai Variant of Concern tergolong cepat sebab memiliki sekitar 50 mutasi dalam urutan genetiknya. Mereka, di antaranya, terdiri atas 30 mutasi di bagian protein paku—bagian paling penting dari virus corona yang dibutuhkannya untuk bisa menginfeksi sebuah sel, dan selama ini menjadi bagian yang dibidik dalam pengembangan vaksin.

Jumlah mutasi itu melebihi yang ada pada varian Delta yang selama ini dikenal paling agresif di antara varian baru Covid-19. Kemunculan varian Omicron juga disertai lonjakan kasus baru di Afrika Selatan.

Yang sudah pasti, menkes menambahkan, kemunculan Omicron (B.1.1.529) menjadi bukti bahwa dunia, termasuk Indonesia, saat ini sudah jauh lebih cepat dalam mendeteksi varian baru SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Varian Omicron ini diidentifikasi pertama kali masuk GSAID 9 November, menjadi Variant under Investigation pada 24 November, dan langsung ditingkatkan menjadi Variant of Concern pada 26 November.

Per Minggu malam itu, Budi Gunadi mengatakan, sebanyak 128 kasus infeksi varian Omicron sudah terdata di sembilan negara. Itu belum termasuk empat negara lain yang masih dalam penelitian pakar virologi. “Jadi masih mungkin ada empat negara lainnya,” kata dia.

Negara-negara itu adalah Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Hong Kong, Australia, Italia, Israel, Belgia, Republik Ceko, Belanda, Jerman, Denmark dan Austria. Sejauh ini, jumlah infeksi terbanyak ada di Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Hong Kong dan Australia.

Sedang yang paling berisiko mengantar importasi kasusnya ke Indonesia, disebutnya, adalah Hong Kong, Italia, Inggris dan Afrika Selatan. “Sebab paling banyak memiliki jadwal penerbangan menuju Indonesia,” kata dia.

Kebijakan pengetatan bagi pelaku perjalanan internasional yang masuk ke Indonesia, dipastikan dalam konferensi pers itu, sudah diterapkan pada daerah yang berbatasan dengan pelabuhan, bandar udara dan jalur darat. “Karena pengalaman di varian Delta justru masuknya dari laut, kami jaga di sana,” kata menkes lagi sambal memastikan semua kantor karantina pelabuhan, udara, laut dan darat bekerja dengan keras.

Kepada semua pelaku perjalanan internasional yang terkonfirmasi positif Covid-19 juga harus dilakukan tes whole genome sequencing (WGS). Budi Gunadi memastikan, hingga saat ini varian Omicron belum muncul di Indonesia.

Baca berita sebelumnya:97 Persen lebih Menular, Covid-19 Varian Delta Terbukti Paling Agresif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.